Tepatnya pada tanggal 23 s/d 27 September 2015 bertempat di Atrium Paragon Mall Semarang, Fedep Kota Magelang mengikuti acara "PAMERAN PRODUK UNGGULAN KLASTER-UMKM TAHUN 2015". Acara ini adalah acara pameran tahunan yang difasilitasi oleh Bappeda Provinsi Jawa Tengah selaku ketua FPESD Provinsi Jawa Tengah. Tujuan dari diadakannya pameran ini adalah untuk mempromosikan potensi daerah dan produk unggulan UKM.

Kegiatan ini diikuti oleh 35 Kab/Kota se-Jateng, beberapa Perbankan dan BUMN/BUMD. Bappeda Kota Magelang melalui Fedep pada kesempatan ini mengusung tema "Mainan Anak Tradisional" dengan memfasilitasi KUB Manunggal Jaya dan KUB Hasta Mandiri yang merupakan penghasil mainan anak tradisional. Selama ini mainan anak produksi dari kedua KUB tersebut sudah menembus pasar berbagai kota/ daerah disekitar Kota Magelang. Diharapkan dengan keikutsertaan kali ini dapat memperluas pangsa pasar dan menambah kreatifitas dari pelaku usaha dengan bertemunya buyer dari berbagai kalangan (langsung dengan konsumen) yang selama ini para pelau usaha tersebut hanya menerima pesanan dari pedagang.

Sekitar 445 produk mainan anak dengan berbagai macam jenis seperti : kuda jungkit, ayam-ayaman, aneka miniatur mobil, Topeng Kertas dll. Antusias masyarakat sangat baik terbukti dengan terjualnya produk sekitar 97% dari semua produk yang di promosikan,dan beberapa sekolahan maupun perorangan yang mengajak kerja sama sekaligus pesan produk. Diantaranya TK/SD Karang Turi Semarang pesan (APE) Alat Peraga Edukasi dan beberapa pesanan yang sifatnya perorangan.

Berbagai kegiatan pendukung dalam acara tersebut diantaranya Fashion Show dengan peserta pasangan dari PNS atau pegawai dari  Bappeda Kab/Kota masing-masing, dan diakhir acara ada penilaian kategori stand terbaik.

Harapan dengan adanya pameran tersebut agar bisa membantu promosi produk dari Klaster-UMKM, dari UMKM bisa menjadi berkembang dan maju.

Plengkung pun Boleh Bicara

Berbicara soal Plengkung Tanggul Kalikota, maka kita berbicara tentang sejarah Kota Magelang. Plengkung diibaratkan sebagai nama lokal yang disematkan pada bangunan Saluran Air yang ada diatas gundukan tanah yang memotong jalan raya yang memiliki bentuk bangunan menyerupai Benteng, melengkung – melengkung sehingga disebut Plengkung.

Sejarah Plengkung

Saluran Air dibuat oleh Belanda dalam rangka mencukupi kebutuhan air rumah dan untuk membersihkan Limbah Rumah Tangga dari Permukiman Warga, saluran ini dibuat dengan memanfaatkan Gravitasi Bumi, mengalirkan air dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah. Saluran air dengan Panjang 6.5 Km ini mengalirkan air dari Kali Manggis dan berakhir di Kampung Jagoan, Kelurahan Jurangombo, Kecamatan Magelang Selatan. Saluran Air tersebut dibuat melayang dengan diletakkan di Gundukan tanah yang sengaja dibuat sehingga menyerupai Benteng yang berada di tengah Kota. Saluran yang memanjang dan membelah Kota yang disebut dengan Fly River atau Aqua duct, sementara untuk saluran yang memotong jalan raya dibuatkan suatu struktur konstruksi penyangga yang menyerupai Gapura supaya tidak menggangu sirkulasi jalan raya tersebut. Karena bentuknya melengkung menyerupai Benteng, maka masyarakat akrab menyebutnya sebagai Plengkung.

Ada 3 Plengkung di Kota Magelang ini yang berlokasi di Jalan Piere Tendean (1883), Jalan Daha/ Tengkon (1893) dan Jalan Ade Irma Suryani (1920). Dari ketiga Plengkung tsb, Plengkung yang berlokasi di Jalan Ade Irma Suryani yang paling memprihatinkan kondisinya, dan Plengkung ini pula yang memiliki nuansa dan penampilan yang terlihat “jadul”, seperti masih Asli.

Pada Jaman Perang Kemerdekaan, Plengkung ini memang digunakan oleh para pejuang kemerdekaan sebagai Benteng Perjuangan, namun kini Saluran Air tersebut tidak berfungsi baik secara sosial, ekonomi dan Lingkungan. Tempat yang rimbun dan tidak terawat berpotensi menjadi tempat yang tidak layak huni, rawan penyimpangan sosial, dan memiliki kesan tidak terawatt karena tidak diberdayakan secara maksimal. Sementara jika dilihat dari lokasinya, saluran air ini berada ditengah Kota yang sangat mempengaruhi Wajah Kota.

Paradigma Revitalisasi Pemerintah Kota Magelang terhadap Kawasan Plengkung Kalikota

Revitalisasi pada dasarnya merupakan sebuah upaya pelestarian yang tidak hanya mempertahankan romatisme masa lalu/ upaya mengawetkan Kawasan Bersejarah,  namun lebih ditujukan untuk menjadi sarana dalam rangka mengikuti perubahan dinamika perkotaan yang berkembang saat ini sehingga eksistensi bangunan bersejarah ini tidak tergeser oleh Aktivitas dan Bangunan masa kini.

Dalam hal ini maka perlu kajian secara mendalam dan perencanaan Masterplan Revitalisasi Plengkung sebagai upaya Pemerintah Kota Magelang dalam rangka mem – vital – kan kembali Kawasan Plengkung sehingga lebih berdaya guna dan berhasil guna ditinjau dari aspek lingkungan, sosial dan ekonomi demi pelestarian dan keberlanjutan sebuah Kawasan Bersejarah di Kota Magelang.

Peran Masyarakat

Adapun Peran Masyarakat dan swasta adalah memberikan dukungan berupa kritik dan saran yang membangun demi kelancaran dan kesuksesan Revitalisasi Kawasan Kalikota sebagai media pembelajaran untuk semua, saran dan kritik yang membangun merupakan hal yang sangat berarti bagi perkembangan Kota Magelang yang lebih Dinamis.

Pada Plengkung Kalikota saat ini telah tersedia Jogging Track Area dan beberapa Fasilitas Pendukung lainnya yang cukup memberikan manfaat bagi warga masyarakat yang hendak mengakses ruang publik ini baik dalam rangka olahraga maupun sekedar berjalan – jalan santai, harapan kedepannya adalah adanya suatu sense of belonging baik dari warga masyarakat Kota Magelang terhadap bangunan Kuno yang mangkrak dan tidak termanfaatkan sama sekali menjadi lebih berdayaguna dan berhasilguna dengan mengubah tampilan serta fungsi bangunan dan kawasan sehingga mampu menyesuaikan diri dengan Perkembangan Kota saat ini maupun dimasa mendatang.

Dalam rangka mewujudkan kota Magelang yang bebas dari pemukiman kumuh, Bappeda Kota Magelang mengadakan workshop Sosialisasi P2KP dan Baseline data 100 0 100 pada hari Rabu tanggal 9 September 2015 di Aula Bappeda Magelang.

Pada workshop tersebut dijelaskan bahwa untuk menciptakan pemukiman yang layak huni dan berkelanjutan diperlukan baseline data 100 0 100. Secara terminology baseline data 100 0 100 adalah suatu gerakan pemenuhan kebutuhan masyarakat baik dari segi penyedian air minum, penyediaan sanitasi maupun kebutuhan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukung. Baseline data 100 0 100 itu sendiri adalah 100% akses air minum, 0% luas kawasan kumuh perkotaan, dan 100% akses sanitasi.

Baseline data ini didukung pula dengan program P2KP ( dulunya PNPM ) karena hampir 80% kegiatan P2KP merupakan pembangunan infrastruktur pemukiman dan mengarah pula pada kegiatan baseline data 100 0 100. Ditambah lagi P2KP juga  melakukan pengembangan kelembagaan masyarakat dan perencanaan partisipatif sehingga dapat membantu dalam terwujudnya baseline data yang dimaksud.

Dapat kami laporkan bahwa dalam rangka Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) Kota Magelang, Fedep Kota Magelang telah melaksanakan 2 pelatihan Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) Kota Magelang. Kedua pelatihan tersebut dilaksanakan pada tanggal 24 dan 31 Agustus 2015.

Adapun pada tanggal 24 Agustus 2015 bertempat di Aula Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Magelang pada pukul 10.00 wib, Fedep Kota Magelang telah melaksanakan pelatihan Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) Kota Magelang dengan tema "Pengembangan Manajemen Usaha untuk Klaster Kerajinan". Peserta dari kegiatan ini adalah para pelaku usaha pembuatan mainan anak.

Sedangkan pada tanggal 31 Agustus 2015 dengan tempat yang sama dan pada kesempatan ini Fedep Kota Magelang bekerjasama dengan Dinas Pengelolaan Pasar Kota Magelang telah melaksanakan kegiatan yang serupa dan dengan tema "Pengembangan Manajemen Usaha untuk UKM Kota Magelang". Peserta dari kegiatan ini dari pelaku usaha kuliner. Narasumber dari kedua kegiatan tersebut adalah Oesman Raliby,M.Eng dari Universitas Muhammadiyah Magelang.

Dalam paparannya, narasumber mengemukakan bahwa pembukuan dalam setiap usaha/bisnis sangatlah penting. Dengan adanya pembukuan yang terperinci, maka dapat diketahui tentang untung/rugi ataupun maju/mundurnya suatu usaha. Sedangkan dalam prakteknya, para pelaku usaha berfikir bahwa pembukuan itu sangatlah merepotkan dan dibuat bila akan mengajukan kredit di bank.

Dapat disimpulkan bahwa, selama ini para pelaku usaha tersebut mengalami kesulitan dalam hal "memanajemen" usahanya. Salah satu saran dari peserta, diharapkan dimasa mendatang, Fedep Kota Magelang mengadakan pelatihan khusus pembukuan untuk pelaku usaha kecil.

Subcategories